Dicari Allah, Kamu Dimana ??

Pernahkah kita merasa hidup ini begitu berat? Ketika rezeki seret, pekerjaan tak kunjung datang, dan segalanya terasa berantakan. Hari-hari terasa hambar, tanpa arah, seolah tanpa nikmat. Hingga akhirnya, kita pun bertanya, “Mengapa bahagia begitu sulit ku gapai?”
Seperti seorang tukang tambal dandang bocor dalam sebuah cerita. Ia mengeluh pada seorang ustadz langganannya tentang kejenuhan dan kesulitan hidup yang ia rasakan.
Sang ustadz pun menjawab dengan kalimat yang menohok: “Mungkin saat ini Allah juga lagi BOSAN dengan sampean.”
Si tukang tambal pun terkejut, “Allah bosan dengan saya? Maksudnya bagaimana, Ustadz?”
Lalu, sang ustadz menerangkan dengan lembut namun penuh makna:
“Mungkin Allah Ta’ala capek mencari sampean. Sebab, Dia mencarimu ke sana kemari, tapi engkau tak kunjung ditemukan.”
“Allah mencarimu di tengah kumpulan orang yang sholat berjamaah di masjid, tapi kamu tak ada.”
“Dicari-Nya di antara orang-orang yang rajin mengerjakan sholat Dhuha, kamu juga tak tampak.”
“Dicari di kumpulan mereka yang bangun malam untuk Tahajud, namamu pun tak terdaftar.”
“Dicari di antara orang-orang yang rajin puasa sunah, tak ada jejakmu. Makan saja yang jadi rutinitas harian.”
“Dicari di kerumunan orang yang bersedekah, bayanganmu pun tak nampak.”
“Dicari di lingkaran orang yang bertadarus Al-Qur’an, kamu juga tak hadir.”
“Bahkan, Dia mencarimu di antara mereka yang berniat untuk Umroh, niat itu pun tak kunjung kau miliki.”
Si tukang tambal dandang hanya bisa menunduk. Setiap kata menyentuh relung hatinya yang paling dalam.
Sang ustadz melanjutkan:
“Allah mencarimu di antara orang-orang yang tepat waktu sholatnya, kamu justru menunda-nunda. Sholat menjadi aktivitas paling akhir.”
“Lalu, siapa yang memberimu waktu dan umur?”
“Dicari di antara ahli sholawat, kamu tak ada.”
“Dicari di majelis ilmu, di pengajian, kamu juga absen.”
“Dicari di antara orang yang menjaga silaturahmi, kamu memilih untuk ‘muter-muter’ di rumah saja, sibuk dengan hal-hal yang kurang manfaat.”
“Lalu, di mana lagi Allah harus mencarimu, Cak?”
Tukang tambal dandang itu pun terdiam. Palu di tangannya berhenti berdetak. Hatinya tergugah.
“Bicaralah, jangan diam saja,” ujar sang ustadz.
Akhirnya, pecahlah tangis si tukang tambal dandang. Air mata tobatnya bercucuran bagai hujan yang meresap melalui genteng bocor. Ia pun beristighfar, “Tobat, Ustadz… tobat kulo.”
Sang ustadz kemudian menutup dengan nasihat berharga: “Hidup itu sederhana, Cak. Kalau kita memprioritaskan Allah, Dia pun pasti memprioritaskan kita.”
***
Renungan untuk Kita Semua
Kisah ini adalah cermin bagi kita semua. Terkadang, kita terlalu sibuk meminta dan mengeluh, hingga lupa untuk hadir di saat-saat Allah ‘memanggil’ kita.
Mari sejenak berevaluasi:
– Sudahkah kita ‘ada’ untuk Allah di saat-saat Dia menanti kita?
– Sudahkah kita memprioritaskan-Nya, sebagaimana kita ingin agar Dia memprioritaskan kita?
Mumpung masih diberi kesempatan hidup, mari perbaiki diri. Mari penuhi ‘janji-janji’ pertemuan kita dengan-Nya: di masjid, di sepertiga malam, dalam sedekah, dan dalam setiap ibadah yang mendekatkan kita kepada-Nya.
Karena kebahagiaan sejati akan datang, saat kita memutuskan untuk berjalan mendekat kepada-Nya.


